Mewabahnya virus covid-19 di Indonesia membuat aktivitas berjemur dibawah sinar matahari menjadi semakin trendy saat ini. Konon, banyak orang percaya hal-hal mitos yang belum tentu benar seputar berjemur.
Parahnya, bukannya berjemur, justru banyak perdebatan di dalam konfirmasi ini. Kira-kira apa saja informasi yang kalian dapatkan seputar berjemur? Silahkan simak dengan bijak!
Berjemur Membunuh Virus
Mitos : Berjemur tidak membunuh virus covid-19!
Hingga saat ini, belum ada penilaian yang membuktikan secara langsung hubungan kebiasaan berjemur yang efektif membunuh virus COVID-19.
Berjemur mengaktifkan vitamin D
Fakta
Salah satu cara pembentukan vitamin D di tubuh adalah dengan berjemur. Tanpa terbentuknya vitamin D, seseorang lebih beresiko mengalami defisiensi vitamin D.
Paparan sinar matahari mengaktifkan senyawa di bawah kulit yaitu 7-dehydocholesterol, untuk membentuk vitamin D3 ( Cholecalciferol ). Vitamin D3 ini kemudian diproses dihati dan ginjal sehingga menjadi aktif.
Berjemur menyebabkan kanker kulit
Mitos : Berjemur dengan durasi dan waktu yang tepat tidak menyebabkan kanker kulit.
Untuk membantu tubuh mengaktifkan vitamin D, dianjurkan berjemur sekitar pukul 10:00 – 14:00 dengan durasi 5 – 15 menit.
Kanker kulit dipicu oleh banyak faktor dan salah satunya adalah paparan sinar matahari dalam durasi yang melewati batas aman di atas dan dilakukan terus-menerus.
Berjemur membantu meningkatkan imunitas
Ketersediaan vitamin D yang cukup dapat membantu meningkatkan imunitas tubuh.
Vitamin D3 (konstituen vitamin D yang dibuat kulit saat terpapar sinar matahari) memiliki sifat sebagai imunomodulator yakni senyawa yang dapat meningkatkan mekanisme kerja sistem imun, dan berfungsi meningkatkan sel-sel kekebalan tubuh.